Bertahan Tak Gabung ke Trans 1000, Ini Alasan Pemilik Kapal Tradisional

Kapal tradisional melaju di perairan Kepulauan Seribu. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Sejumlah pemilik kapal tradisional yang melayani angkutan penumpang dengan rute Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara, ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, bertahan untuk tetap bermitra dengan PT Samudra Sumber Artha (SSA) dan tidak mau bergabung dengan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo.

Meski Trans 1000 mengklaim telah 29 dari 42 pemilik kapal yang telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengannya.

"Selain saya, untuk di (Pulau) Kelapa ada 3 kapal, di (Pulau) Harapan 3 kapal, di pulau lain juga ada (yang belum bergabung dengan Trans 1000), Pak," kata Mulis, seorang pemilik kapal tradisional, kepada dekannews.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (11/10/2019).

Mulis mengakui, hingga kini ia pribadi memang tidak tertarik untuk bergabung dengan Trans 1000 karena selain punya usaha yang lain, juga karena tak yakin dengan janji-janji yang ditawarkan Trans 1000 bahwa perusahaan itu akan memberi Rp35 juta/bulan dari kapal tradisional yang diremajakan menjadi kapal kargo, dan Rp5.000/penumpang dari kapal cepat Trans 1000 yang dioperasikan sebagai pengganti kapal tradisional dalam mengangkut penumpang.

"Yang jadi pertanyaan, uang yang dijanjikan itu uang siapa?" tanyanya.

Ia mengakui, jika Trans 1000 kelak beroperasi, maka kemungkinan akan ada dua operator di Pelabuhan Kaliadem, yakni Trans 1000 dan SSA, karena selama ini kapal tradisional sangat membantu perekonomian masyarakat Kepulauan Seribu, sehingga ia pribadi tak ingin jika kapal tradisional sampai dihilangkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, PT Trans 1000 berencana membuka bisnis angkutan penumpang laut dengan rute Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Untuk itu, perusahaan ini akan meremajakan semua kapal tradisional yang selama ini dikoordinir dan bermitra dengan PT SSA, untuk dijadikan kapal kargo, dan kemudian menggantikan fungsi kapal-kapal itu yang selama ini berfungsi sebagai kapal angkutan penumpang, dengan kapal-kapal cepatnya.

Dirut PT Trans 1000 Nana Suryana mengatakan, dari 42 pemilik kapal tradisional, yang telah menyatakan bergabung dan bersedia mengikuti program pemeremajaan kapal yang digagasnya sebanyak 33 pemilik kapal, namun dari jumlah itu baru 29 pemilik kapal telah menendatangani MoU, dan dari jumlah yang 29 tersebut baru 20 yang telah memiliki akta MoU.

Inilah nama ke-20 pemilik kapal yang sudah memiliki akta MoU tersebut:
1. Ikromul Azhmi - KM Islani
2. H. Suriyat Saruri - KM Anterja
3. Sanwari - KM Napoleon 12
4. Saluri - KM Harapan Ekspres
5. Safrudin - KM Miles 2
6. Sahrani - KM Srikandi Z2
7. Tajeni - KM Rindu Alam
8. Moch. Sukri - KM Dolphin Ekspres
9. Moh. Yusuf - KM Bahtera 2
10. Abdul Jalal - KM Karisma Anugera
11. Tintus Apriyanto Zulfikar - KM Miles
12. Rayudi - KM Batavia
13. H. Nurjali - KM Satria Tirta 2
14. H. Nurjali - KM K'satria 1
15. Mustawa - KM Zahro
16. Zaenudin - KM Diamond 21
17. Anwar - KM Hasbi Jaya
18. Herman Pelani - KM Raksasa
19. Hidayat - KM Colombus
20. Suryana - KM Kurnia 1

Direktur PT SSA Juwanto Bayu Setia mengatakan, tindakan Trans 1000 merekrut pemilik kapal yang bermitra dengan perusahaannya merupakan tindakan 'kudeta', dan ia menegaskan pihaknya tak akan tinggal diam.

"Dulu, angkutan penumpang di Pelabuhan Kaliadem ini berantakan dan tidak tertata, lalu sejak 2015 kami melakukan terobosan. Kami koordinir para pemilik kapal itu, kami buatkan jadwal keberangkatan, dan kami buatkan tiket sistem online. Setelah menjadi seperti sekarang, ada perusahaan yang tiba-tiba mau mengambil alih dan mendepak kami dari sini. Etis tidak itu?" tanyanya.

Bayu juga mempertanyakan soal janji Trans 1000 yang akan memberikan Rp35 juta/bulan kepada para pemilik kapal dari kapalnya yang diremajakan menjadi kapal kargo, karena katanya, selama ini barang-barang yang diangkut kapal tradisional dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi rumah tangga maupun yang dijual lagi oleh para pedagang di pulau. Jumlahnya tidak banyak.

"Kalau Trans 1000 beranggapan bahwa barang-barang yang diangkut dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau adalah bahan material seperti semen dan lain-lain, berarti perusahaan itu kurang survei, karena barang-barang seperti itu diangkut melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Rawa Saban atau barangkali juga Tanjung Priok!" tegasnya. (rhm)