Bela dan Dukung Palestina, Waspadai Agenda Cina

Dukung perjuangan rakyat Palestina, waspadai kedatangan TKA Cina. [ilustrasi/ist]

Jakarta, Dekannews – Dunia Internasional mendukung perjuangan rakyat Palestina. Mereka memberi dukungan materi bahkan pejuang ke Palestina. Aksi massa bergelora di negera-negera yang mendukung perjuangan rakyat Palestina.  

Tak ketinggalan pula Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina. Terlebih antara Indonesia dan Palestina memiliki hubungan sejarah yang erat kaitannya dengan kemerdekaan Indonesia.

Kendati demikian, buka Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah, masyarakat Indonesia yang mendukung Palestina agar jangan sampai lengah terhadap kondisi di dalam negeri. “Bela dan dukung perjuangan rakyat Palestina, tapi kita harus tetap waspada atas semua langkah-langkah RRC lewat TKA-TKA-nya serta tekanan politik kepada rejim saat ini,” wanti-wanti Amir mencermati kondisi terkini.

Menurut Amir, terkait serangan Israel atas Palestina,  Cina dan Amerika Serikat (AS) “bermain” dalam konflik antara Palestina dengan Israel. Kedua negara tersebut memanfaatkan situasi perang Palestina atas Israel sedang mengincar Indonesia untuk dikuasai.

“Konflik Palestina dan Israel kalau kita lihat dari aspek geopolitik dan geostrategis, tidak lepas dari kepentingan AS dan China,” kata Amir kepada wartawan di Jakarta, Senin (17/5/2021), di Jakarta.

Masih menurut Amir, dalam konflik yang menjadi perhatian dunia itu, Cina secara massif menunjukkan dukungannya kepada Palestina agar AS secara frontal memperlihatkan dukungannya kepada Israel. Ternyata AS bisa membaca strategi jebakan Cina tersebut. Walaupun Israel koar-koar bahwa serangannya ke Palestina direstui Presiden AS Joe Biden, AS justru menarik 120 tentara dan warganya dari Palestina. Cina tidak bisa menjebak AS. Malah AS mendorong negara-negara sekutunya seperti Inggris, Prancis dan Jerman agar menekan Israel dan Palestina untuk melakukan gencatan senjata.

“Tapi meski begitu bukan berarti AS melepas Israel begitu saja, karena maraknya dukungan terhadap Israel di dalam negeri Indonesia mengindikasikan kalau operasi intelijen asing bisa jadi juga bermain di Indonesia demi mendapatkan dukungan moral bagi Israel. Apalagi karena pemerintah AS telah menawarkan uang Rp28,5 triliun kepada pemerintah Indonesia kalau pemerintah Indonesia mau berdamai dengan Israel,” kata mantan Staf Khusus Wapres dan Menlu Adam Malik ini.

Terkait tawaran AS tersebut, Amir mengaku lega karena sejauh ini pemerintah menolak tawaran tersebut karena nilai yang ditawarkan tersebut terlalu kecil untuk negara sebesar Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, dan konsekuensi yang harus ditanggung jika Indonesia berdamai dengan Israel, yakni membuka hubungan diplomatik dengan Israel. “Nilai yang ditawarkan AS terlalu kecil dan dianggap menghina. Jika tawaran AS mengambilalih tanggung jawab semua utang Indonesia yang mencapai Rp6.000 trilyun lebih, ceritanya bisa lain,” ujar Amir.

Walaupun begitu, pembukaan hubungan diplomatik itu seperti yang diminta AS, jelas Amir, tentu akan menimbulkan gejolak sosial maupun politik. Mengacu pada pembukaan UUD 1945 menyatakan, “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”,  sementara Israel merupakan negara yang menjajah Palestina.

Satukan Fatah - Hamas

Rakyat Palestina tengah berjuang atas serangan Israel. Ternyata, dua faksi besar di sana yakni Fatah dan Hamas justru bersitegang. Atas kondisi tersebut, Amir berharap internal Palestina dapat menyatukan Hamas dengan Fatah. Selama ini kedua kelompok terbesar dan paling berpengaruh di Palestina itu menempuh jalan yang berbeda.

Hamas berjuang untuk memerdekakan Palestina, sedang Fatah justru mendukung Barat. Fatah bahkan dicurigai dimanfaatkan Mossad, agen Israel, sehingga menolak pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menjadi Perdana Menteri Palestina, ketika Ismail memenangkan Pemilu Palestina tahun 2006.

Amir mengakui, Indonesia “punya utang” kepada Palestina. Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Selain itu, Palestina dan sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki ikatan emosional yang kuat karena sama-sama beragama Islam, dan bagi pemeluk agama rahmatan lil alamin ini mereka ibarat satu tubuh, sehingga ketika satu bagian sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasa sakit.

Seperti diketahui, sejak 10 Mei lalu Palestina dan Israel saling serang setelah Israel mengusir warga Palestina dari Yerusalem Timur, wilayah Palestina yang diduduki Israel. Pengusiran antara lain dilakukan di wilayah Seikh Aljarrah, dimana warga Israel mulai mengisi seluruh penjuru wilayah tersebut. Target serangan utama Israel adalah Kota Gaza yang menjadi basis Hamas.

Waspada Agenda Cina

“Langkah bela dan dukung perjuangan rakyat Palestina jangan sampai membuat kita lengah dengan apa yang sedang terjadi saat ini di negara kita. Jangan sampai kita lengah terhadap kondisi di dalam negeri kita sendiri,” pesan Amir.

Saat di Timur Tengah terjadi perang antara Palestina dan Israel, di dalam negeri adanya kebijakan rejim yang melarang mudik kaum Muslim dan lainnya merayakan Lebaran di kampung, rejim yang sama justru “memberi karpet merah” bagi TKA Cina masuk ke tanah air. “Kebijakan yang kontradiktif dan diskriminatif bahkan cenderung menjalan agenda Cina untuk menguasai Indonesia lewat TKA dan kebijakan politik yang condong ke Cina,” beber Amir.

Disinyalir, TKA-TKA tersebut merupakan PLA Cina. Mereka (TKA Cina) masuk lewat Bandara Sukarno-Hatta dan tak sedikit langsung ke daerah tujuan seperti Morewali, Sultra.

Tak hanya itu, pungkas Amir, rakyat Indonesia harus mewaspadai gejolak politik dalam negeri dan agenda Cina lewat kaki tangannya. Cina lewat PKC sudah menjalin komunikasi dengan KGB mencoba mengadudomba, mengkriminalisasi ulama dan aktivis Muslim dan demokrasi, mendorong daerah memecahkan diri dari NKRI. “Cina sudah menjalankan operasi jalak merah,” tandas Amir.  (kir)