Bantah Wiranto, Pengacara dan Pensiunan Jenderal Sebut Soenarko Tak Selundupkan Senjata dari Aceh

Pengacara Soenarko dan sejumlah jenderal (purn) TNI memberikan keterangan.pers di Hotel Century Park, Jakpus, Jumat (31/5/2019). (Foto: Ist)

Jakarta, Dekannews-  Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Letnan Jenderal (Purn) Yayat Sudrajat berani bertaruh potong leher jika mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko ingin berbuat makar.

Ia tak percaya pada tuduhan pemerintah terhadap koleganya itu.

“Saya tahu persis dan saya taruhannya jika Pak Narko berbuat seperti itu (makar), boleh potong leher saya,” kata Yayat dalam konfrensi pers bersama sejumlah purnawirawan jenderal TNI di Hotel Century Atlet, Jakarta, Jumat (31/5/2019).

Soenarko harus berhadapan dengan hukum karena menghadapi dua tuduhan sekaligus, yakni tuduhan akan melakukan makar dan penyelundupan atau memiliki senjata api ilegal jenis M4.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengatakan, senjata itu berasal dari Aceh dan pemerintah menduga senjata itu ada kaitannya dengan rencana aksi 22 Mei 2019.

Meski demikian  Wiranto mengatakan, Soenarko ditahan di Rutan POM Guntur bukan karena kasus makar, melainkan karena kasus kepemilikan senjata api ilegal.

"Mayjen Soenarko sudah dipanggil, sudah diperiksa dan sekarang sudah jadi tersangka dan ditahan di rumah tahanan POM Guntur dengan tuduhan memiliki dan menguasai senjata api ilegal," kata Wiranto saat jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Selain Soenarko, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zein juga menghadapi dua tuduhan yang sama, namun seperti halnya Soenarko, Kivlan pun ditahan karena tuduhan memiliki senjata api ilegal.

Menurut Yayat, tuduhan makar yang disematkan pemerintah cq kepolisian kepada Soenarko terkait dengan harga diri Kopassus, dan menurutnya, tuduhan tersebut tak lebih sebagai dagelan politik belaka.

"Sangat tidak mungkin Pak Soenarko yang merupakan prajurit Kopassus dan telah banyak dinas di medan konflik melakukan makar," tegas mantan Sesmenkopolhukam itu.

Ketidakpercayaan serupa juga diutarakan oleh mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo. Menurutnya, Soenarko salah satu jenderal yang tak pernah melihat istrinya melahirkan.

“Bahkan anaknya itu pilot pesawat tempur dan gugur saat melakukan operasi, itu dikubur di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata,” ujarnya.

Terkait tuduhan penyelundupan/kepemilikan senjata api, kuasa hukum Soenarko, Ferry Firman Nurwahyu dan para purnawirawan TNI yang hadir dalam konferensi pers, juga membantahnya.

Mantan Kepala Bais Mayjen TNI (purn) Zacky Anwar Makarim menjelaskan, senjata yang disebut dibawa dari Aceh itu bukan M4, karena senjata yang masuk ke Aceh adalah senjata yang sebelumnya dipakai dalam Perang Vietnam, yakni M16. Itu pun, kata dia, sudah dimodifikasi.

Yayat Sudrajat menilai, senjata M16 itu sudah seperti rongsokan karena usianya sudah tua. 

"Itu senjata busuk dan sudah dimodifikasi," kata dia.

Ferry menegaskan, Soenarko tak pernah memasukkan senjata M16 A1 maupun M4 Carbine ke Indonesia, dan kliennya itu tidak pernah membuat kedua jenis senjata tersebut.

Tak hanya itu, menurut pengacara yang tergabung dalam Advokat Senopati-08 ini, Soenarko juga tak pernah menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan, mencoba menyerahkan, menguasai senjata M16 A1 maupun M4 Carbine. 

Bahkan, katanya, mantan Komandan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda itu tak pernah membawa, mempunyai persediaan, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, serta menggunakan senjata dimaksud.

"Klien kami juga tidak memiliki kaitan sama sekali dengan kericuhan dalam aksi massa 22-23 Mei 2019 di depankantor Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum)," katanya.

Seperti diketahui, pendukung pasangan 02 pada Pilpres 2019, Prabowo-Sandi, yang tergabung dalam Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) pada 21-22 Mei menggelar unjuk rasa di depan kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dan aksi ini berujung kerusuhan karena ditunggangi pihak tak bertanggung jawab.

Sedikitnya sembilan orang tewas dalam kejadian ini, sementara ratusan orang luka-luka.

Paska kejadian, polisi menangkapi sejumlah orang yang disebut sebagai perusuh, dan dalam sebuah konferensi pers, polisi bahkan mengatakan, dalang di balik kerusuhan itu berencana membunuh empat pejabat negara, yakni Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, dan dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

Untuk rencana pembunuhan ini, polisi menangkap enam orang dengan barang bukti sepucuk senjata api laras panjang dan dua buah pistol. Kasus ini menyeret nama Kivlan Zein karena satu dari keenam tersangka merupakan sopir Kivlan yang baru bekerja selama tiga bulan.

Tak lama setelah itu, ada orang yang melaporkan Soenarko dengan tuduhan makar. Soenarko pun dipanggil dan diperiksa polisi, namun kemudian Soenarko dijebloskan ke tahanan dengan tuduhan kepemilikan senjata api ilegal.

Majalah Tempo edisi 26 Mei 2019 mengabarkan, pengiriman senjata oleh Soenarko dari Aceh terbongkar pada 15 Mei 2019, namun baru lima hari kemudian tim gabungan Kepolisian Besar Republik Indonesia dan polisi militer memeriksa Soenarko.

Pada Senin (20/5/2019) malam, Soenarko awalnya dipanggil sebagai saksi untuk dua orang tersangka penyelundupan senjata yang menyeret namanya, yakni ZN dan BP, di markas Pusat Polisi Militer TNI di Cilangkap, Jakarta Timur. BP adalah seorang tamtama berpangkat prajurit kepala yang membawa paket itu dari Aceh, sedangkan ZN ialah sersan mayor yang menunggu paket itu di Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut narasumber Majalah Tempo, Soenarko mengakui senjata yang dipaketkan dari Aceh adalah miliknya. Kepada penyidik dia mengatakan ingin memperbaiki senjata tersebut. 

"Saya mau memperbaiki senjata itu, tapi memang tak ada surat-suratnya," kata Soenarko kepada penyidik, seperti dikutip majalah itu.

Soal rencana Soenarko memperbaiki senjata itu, dibenarkan JS Prabowo dan Zacky Anwar Makarim saat konferensi pers. Mereka mengatakan, Soenarko ingin memperbaiki senjata itu untuk kemudian disumbangkan ke Museum Kopassus.

"Saya pernah dengar 2009 dia bilang ada senjata unik. Nanti saya minta kirim buat masukkan (museum) Kopassus," kata JS Prabowo. (man)