Awas! Perilaku Makan Atipikal pada Anak Bisa Jadi Petunjuk Autisme

Ilustrasi. (Foto: Futurity)

Jakarta,  Dekannews- Jangan anggap remeh kebiasaan makan pada anak, karena dapat mengindikasikan gejala autisme.

Hasil penelitian para pakar dari Penn State College of Medicine, Amerika Serikat, menemukan bahwa 70 persen anak-anak dengan autisme dimulai dengan gejala gangguan kebiasaan makan.

Seperti dikutip dari futurity.org, Senin (22/7/2019),  perilaku makan atipikal (tidak sesuai dengan yang umum) mungkin merupakan tanda bahwa seorang anak harus diskrining autisme.

Salah seorang peneliti yang juga seorang profesor psikiatri di Penn State College of Medicine, Susan Mayes, mengatakan, dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa perilaku makan atipikal terjadi pada 70 persen anak-anak penderita autisme, yang 15 kali lebih umum daripada anak neurotipe.

Perilaku makan atipikal dapat mencakup preferensi makanan yang sangat terbatas, hipersensitif terhadap tekstur atau suhu makanan, dan menyantap atau mengunyah makanan, tapi tidak ditelan.

Menurut Mayes, perilaku ini ada pada banyak anak berusia 1 tahun dengan autisme, dan dapat memberi sinyal kepada dokter dan orang tua bahwa jika seorang anak memperlihatkan perilaku yang sama,  kemungkinan dia juga menderita autisme.

"Jika dokter atau perawat mendengar hal ini dari orang tua, mereka harus segera mempertimbangkan agar anak melakukan skrining autisme," tegas dia.

Mayes menyebut, anak dengan autisme memiliki menu makanan yang lebih sedikit. Umumnya mereka terpaku dengan produk biji-bijian, pasta, roti, serta nugget. 

"Mereka tak suka dengan perubahan, sehingga mereka tak ingin mencoba makanan baru. Seringnya mereka hanya tergantung pada merek, warna, dan bentuk tertentu," jelasnya.

Autisme, jelas profesor ini, membutuhkan pendeteksian sedini mungkin. Sebagai langkah awal, analisis perilaku bisa dilakukan. Kebiasaan makan bisa menjadi langkah awal. Perilaku bisa diubah perlahan dengan mengajarkan beberapa keterampilan yang dibutuhkan.

Ada beberapa perbedaan mencolok soal kebiasaan makan anak pada umumnya dengan mereka yang menderita autisme. Anak tanpa berkebutuhan khusus perlahan akan menambahkan menu makanan lain selama masa perkembangan, sementara anak dengan sindrom autisme akan tetap menjadi pemakan yang selektif.

Mayes menegaskan, sebelum autisme pada seorang anak terdiagnosis, analisa melalui perilaku sebaiknya dilakukan agar anak cepat mendapatkan perawatan.

Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa analisis perilaku yang paling efektif dilakukan pada tahun-tahun prasekolah. Analis perilaku tersebut menggunakan sejumlah intervensi, termasuk penghargaan, untuk membuat perubahan positif dalam perilaku anak-anak dan mengajarkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan.

Keith Williams, direktur Program Pemberian Makanan di Rumah Sakit Anak Penn State, menggunakan terapi ini untuk membantu berbagai individu dengan perilaku makan yang tidak biasa. Dia mengatakan bahwa mengidentifikasi dan memperbaiki perilaku ini dapat membantu memastikan anak-anak memakan makanan yang benar.

"Saya pernah merawat seorang anak yang hanya makan daging asap dan hanya minum teh es. Diet yang tidak biasa seperti ini tidak mendukung anak-anak," katanya.

Williams juga mencatat bahwa ada perbedaan yang jelas antara perilaku makan yang mengkhawatirkan dan kebiasaan makan pilih-pilih pada anak-anak. Dia menjelaskan bahwa sebagian besar anak-anak tanpa kebutuhan khusus akan perlahan-lahan menambahkan makanan ke dalam makanan mereka selama masa perkembangan, tetapi anak-anak dengan kelainan spektrum autisme, tanpa intervensi, sering akan tetap menjadi pemakan selektif.

"Kami melihat anak-anak yang terus makan makanan bayi atau yang tidak akan mencoba tekstur yang berbeda. Kami bahkan melihat anak-anak yang gagal melakukan transisi dari pemberian susu botol," katanya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar anak dengan autisme memiliki dua hingga tiga jenis perilaku makan atipikal. Hampir seperempat anak bahkan memiliki tiga atau lebih. 

"Kami mengevaluasi anak-anak kecil dengan banyak masalah makan, lalu kami mulai bertanya-tanya apakah mereka mungkin memiliki diagnosis autisme juga," kata Williams. 

Penelitian dilakukan berdasarkan wawancara dengan lebih dari dua ribu orang tua. Mereka menyelidiki perbedaan dalam perilaku makan yang tidak biasa di antara anak-anak pada umumnya, anak dengan sindrom autisme, anak dengan ADHD, dan gangguan lainnya. (man)