AstraZeneca Buat Kesepakatan untuk Produksi Vaksin Covid-19 Bagi China

Foto: WSJ

Washington, Dekannews- AstraZeneca, perusahaan patungan Inggris dan Swedia yang bergerak di bidang farmasi dan biofarmasi, menjalin kesepakatan dangan Shenzhen Kangtai Biological Products Company, sebuah produsen obat di China, untuk memproduksi 100 juta dosis vaksin Covid-19 hingga Desember 2020.

"Vaksin-vaksin itu akan diujicobakan kepada warga China pada akhir tahun ini," demikian dikutip dari Wall Street Journal (WSJ), Senin (17/8/2020). 

Selain hal tersebut, lanjut salah satu media terkemuka di Amerika itu, dalam kesepakatan disebutkan bahwa pada Januari hingga Desember 2021, AstraZeneca dan Kangtai juga akan memproduksi 100 juta dosis vaksin Covid-19, sehingga total menjadi 200 juta dosis. 

Jika vaksin ini sukses diuji coba kepada warga China, dan pemerintah Tirai Bambu menyetujui penggunaannya, maka vaksin hasil produksi kedua perusahaan ini akan digunakan secara resmi di negara itu, dan kemudian vaksin akan dibuat hingga 2 miliar dosis untuk dijual ke seluruh negara di dunia, termasuk Amerika dan Eropa. 

Selain bekerja sama dengan Kangtai,  AstraZeneca juga bekerja sama dengan Serum Institute of India untuk menyediakan satu miliar dosis vaksin Covid-19 untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.  Meski demikian, perjanjian dengan Kangtai disebut-sebut merupakan perjanjian eksklusif, karena vaksin hanya khusus digunakan di daratan China. 

Saat ini Rusia merupakan negara pertama yang diberitakan menghasilkan vaksin virus Covid-19, namun klaim itu dianggap terlalu tergesa-gesa, meski negeri Vladimir Putin itu mengatakan akan mendaftarkan vaksinnya itu pada akhir Agustus 2020 ini. 

Di sisi lain, China sebenarnya sedang mengembangkan beberapa kandidat vaksinnya sendiri, dan kesepakatan Kangtai dengan AstraZeneca ini menunjukkan bahwa para pemimpin dan ilmuwan China percaya bahwa pasar domestik dapat memperoleh keuntungan dengan adanya lebih banyak pilihan vaksin. 

China mengikuti jejak negara-negara seperti AS yang pada awal 2020 menjanjikan $ 1,2 miliar untuk mengamankan setidaknya 300 juta dosis vaksin AstraZeneca. 

Dikembangkan bersama AstraZeneca dan Universitas Oxford, vaksin eksperimental AZD1222 adalah salah satu kandidat vaksin paling canggih di dunia, dan sedang diuji dalam studi tahap akhir, atau tahap 3, di Inggris Raya, Brasil, dan Afrika Selatan. 

Moderna Inc. dan pesaingnya, Pfizer Inc., keduanya meluncurkan studi Fase 3 di AS untuk kandidat vaksin mereka pada akhir Juli 2020. Begitu pula dengan produsen obat China Sinovac Biotech Ltd., dan China National Biotec Group Co. 

AstraZeneca diharapkan memulai studi Fase 3 di AS pada Agustus 2020 ini. (rhm)