Astaga! Ekonomi Mati, Warga Kayuni Lakukan Barter untuk Dapatkan Bahan Pokok?

Akun Twitter Alex Wu. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Sebuah kabar buruk datang dari wilayah Indonesia bagian Timur.

Pasalnya, netizen yang tinggal di wilayah Papua Barat mengabarkan kalau ekonomi di provinsi itu parah, bahkan pereknomian di salah satu distriknya telah mati, sehingga untuk mendapatkan bahan pokok, warga di distrik tersebut melakukan sistem barter.

"Pak @jokowi yang terhormat! Taukah anda pak, di papua barat ekonominya parah... Sampai di kayuni, papua barat sana, kita terapkan kembali system barter untuk kebutuhan pokok masyarakat, karena ekonomi mati!" kata Alez Wu, netizen tersebut, melalui akun Twitter-nya, @AlexGoh, seperti dikutip dekannews.com, Minggu (18/10/2020).

Kayuni atau Kayauni adalah salah satu distrik di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Menurut Wikipedia, distrik ini memiliki 9 kampung dengan luas 732 km2

Berdasarkan rilis BPS Papua Barat pada 5 Agustus 2020 diketahui kalau perekonomian Papua Barat berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp 20.269,36 miliar, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 15.026,01 miliar.

Sementara itu, ekonomi Papua Barat dengan minyak dan gas bumi triwulan II-2020 dibanding triwulan II-2019 tumbuh sebesar 0,53 persen (y-on-y), tetapi tanpa minyak dan gas bumi, ekonomi Papua Barat triwulan II-2020 dibanding triwulan II-2019 kontraksi sebesar 1,82 persen (y-on-y).

Selain itu, ekonomi Papua Barat dengan minyak dan gas bumi triwulan II-2020 dibanding triwulan I-2020 mengalami kontraksi sebesar 2,75 persen (q-to-q), sementara dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 5,66 persen, dan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Luar Negeri yang tumbuh sebesar 14,66 persen.

Terkait sektor perdagangan, pada September 2020 berdasarkan rilis BPS Papua Barat pada 1 Oktober 2020, diketahui kalau di provinsi itu terjadi deflasi sebesar 0,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 103,71. Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran, yakni: kelompok transportasi 2,86 persen; kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,55 persen; kelompok pakaian dan alas kaki 0,04 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya 0,01 persen.

Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,75 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,70 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin 0,20 persen; kelompok pendidikan 0,06 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen. Dan kelompok  pengeluaran yang tidak mengalami perubahan adalah kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran dan kelompok  kesehatan.

Tingkat inflasi tahun kalender (September 2020 terhadap Desember 2019) sebesar -0,19 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2020 terhadap September 2019) sebesar 0,33 persen.

Terkait kesejahteraan petani, menurut rilis BPS Papua Barat pada 1 Oktober 2020, Nilai Tukar Petani (NTP) di Papua Barat pada September 2020 sebesar 100,14 atau turun 0,59 persen dibanding NTP bulan Agustus 2020, akibat Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun lebih besar daripada  penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).

Pada September 2020, NTP Tanaman Pangan (NTPP) merupakan subsektor yang memiliki indeks tertinggi, yaitu sebesar 104,80, sementara NTP Tanaman Perkebunan Rakyat merupakan subsektor yang memiliki indeks terendah, yaitu sebesar 95,23.

Jika dilihat dari laju pertumbuhan indeks dibandingkan bulan sebelumnya (Agustus 2020), NTP Perikanan memiliki laju pertumbuhan tertinggi, yaitu naik 1,26 persen. Sebaliknya, NTP Hortikultura memiliki laju pertumbuhan terendah, yaitu turun 1,21 persen.

Pada September 2020 terjadi deflasi perdesaan di Provinsi Papua Barat sebesar 0,05 persen. Hal ini utamanya disebabkan peningkatan kelompok  Perawatan Pribadi Dan Jasa Lainnya naik 0,05 persen; kelompok Perlengkapan, Peralatan Dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga naik 0,03 persen; kelompok Pakaian Dan Alas Kaki naik 0,01 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan adalah kelompok  Transportasi turun 0,01; kelompok Makanan, Minuman Dan Tembakau turun 0,06 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik Dan Bahan Bakar Rumah Tangga turun 0,25 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Papua Barat September 2020 juga kurang menggembirakan karena  turun 0,66 persen ke level 102,42 dibanding bulan sebelumnya (Agustus 2020).

Dalam cuitan di akun Twitter-nya, Alex Wu memberikan sedikit penjelasan apa yang membuat kehidupan warga Kayuni begitu sulit, sehingga terpakaa harus melakukan barter untuk mendapatkan bahan pokok.

Begini kata dia;

"Orang mau cari sagu, pohon sagu sudah ganti sawit. Mau makan pangan lokal, hutan juga sudah ganti sawit. Beli beras raskin, ekonomi sulit". (rhm)