Aliansi Aktivis Jakarta Akan Laporkan Penyebar Hoaks Ambulan Pemprov DKI Bawa Batu dan Bensin

Sugiyanto. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Aliansi Aktivis Jakarta berencana melaporkan pihak-pihak yang terlibat penyebaran hoaks tentang ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang tertangkap membawa batu dan bensin untuk disuplai kepada mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di DPR RI.

"Kita sebagai aktivis Jakarta sangat marah atas penyebaran hoaks ini. Apa pun alasan tindakan itu tak dapat kita tolerir dan harus ditindak secara hukum," kata Sugiyanto, ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), kepada dekannews.com di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Diakui, penyebaran hoaks ambulan Pemprov DKI Jakarta membawa batu dan bensin itu sangat mengganggu, karena di satu sisi pemerintah tengah getol memberantas hoaks, namun di sisi lain ada pihak-pihak yang justru dengan sengaja menyebarkan hoaks.

"Karena itu kita akan melaporkan siapapun yang diduga terlibat penyebaran hoaks itu ke Bareskrim Polri agar ditindak tegas. Kita dukung program Pemerintah memberantas hoaks," tegas pria yang akrab disapa SGY itu. 

Pria berkacamata ini tidak menjelaskan siapa saja yang akan dilaporkan, karena ia hanya mengatakan bahwa yang akan dilaporkan adalah mereka yang diduga terlibat menyebarkan hoaks tersebut.

Selain SGY, aktivisl yang berada dalam Aliansi Aktivis Jakarta dan akan melapor ke Bareskrim adalah Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) M Rico Sinaga, Ketua Budgeting Meteopolitan Watch (BMW) Amir Hamzah, Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS) Syaiful Jihad, Ketua Jakarta Procurement Monitoring (JPM) Ivan Parapat, Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia Agung Nugroho, dan mantan pendiri Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Syafti Hidayat.

SGY mengatakan, ia dan keenam aktvis itu telah melakukan pertemuan pertama, dan rencananya akan segera melakukan pertemuan lanjutan untuk mematangkan rencana pelaporan ke Bareskrim Polri. 

Seperti diketahui, pada Kamis (26/9/2019) lalu akun Twitter resmi Trafic Management Centre Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, menggegerkan masyarakat karena memposting cuitan bahwa polisi menangkap lima ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang membawa batu dan bensin.

Postingan itu kemudian tak hanya dihapus, tapi juga diluruskan Polda Metro Jaya bahwa ambulan yang ditangkap itu tidak membawa batu dan bensin seperti yang dituduhkan, dan menilainya hanya sebagai suatu kesalahpahaman.

Inilah cuitan itu: "02:14 Polri amankan 5 kendaraan ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto".

Cuitan ini dilengkapi sematan sebuah video yang memperlihatkan dua dari lima ambulan yang diamankan, yang di antaranya bertuliskan Puskesmas Kecamatan Pademangan dan PMI Kota Jakarta Timur. 

Dalam adegan yang terekam pada video itu terlihat sejumlah aparat kepolisian menggeledah kedua ambulan itu. Saat menggeledah ambulan yang pertama, antara lain terdengar narasi sebagai berikut. 

"Ini ambulan pembawa batu, menyuplai batu buat demonstran!" 

Saat menggeledah ambulan kedua, begitu pintu belakang ambulan dibuka, terlihat sejumlah tenaga medis di dalamnya. 

Para tenaga medis itu nampak kaget dan di antaranya ada yang langsung mengangkat tangan. 

"Nah, ini dia muka-mukanya nih...," terdengar lagi suara dari video itu. 

Tak ada batu dan bensin yang diperlihatkan dalam video berdurasi 0:30 menit itu, namun cuitan @TMCPoldaMetro tersebut diviralkan para pendukung pemerintah dengan menggunakan akun Twitter mereka. 

"Hasil pantauan malam ini.. Ambulan pembawa batu ketangkep pake logo @DKIJakarta," kata @dennysiregar7 dengan menyematkan pula video yang disematkan @TMCPoldaMetro. 

"Ini kenapa ambulan Pemprov DKI digunakan untuk menyuplai batu para perusuh? Apa @PemprovJakarta terlibat? Apa @aniesbaswedan mo jadi Nero?" kata @OneMurthada sambil menyematkan video yang sama. 

"Apa-apaan ini, kenapa ambulans milik Pemprov DKI ada bawa batu buat pendemo? Woy,  siapa ini yang tanggung jawab. @DivHumas_Polri ayolah diusut sampai tuntas!  Batunya buat lemparin polisi," kata @P3nj3l4j4h. Juga sambil menyematkan video yang sama. 

"Lhoo...?  Ambulance @DKI Jakarta digunakan menyuplai batu untuk demo? Gub @aniesbaswedan perintah andakah ini?" kata @FerdinandHaean2.

Akun @mas_piyuuu menemukan keganjilan pada cuitan di akun @TMCPoldaMetro dengan di akun @dennysiregar7, karena jika @TMCPoldaMetro mencuit pada Kamis (26/9/2019) pukul 02:16 WIB, akun @dennysiregar7 mencuit lebih dulu, yakni pada pukul 01:24 WIB. 

"Pertinyiinyi...  Kenapa twit Polda itu sebelumnya dicuitkan akun-akun Jokower?  Di antaranya si Densi..," kata @mas_piyuuu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono pada hari yang sama mengatakan, cuitan itu merupakan sebuah kesalahpahaman, karena ambulan yang diamankan tidak membawa batu.  

"Jadi, apa namanya, anggapan anggota Brimob diduga mobil itu digunakan oleh perusuh, tapi bukan. Tapi perusuh yang bawa batu ke mobil berlindung. Clear ya. Jadi enggak ada permasalahan apa-apa,"  katanya di Polda Metro Jaya.

Argo menjelaskan, saat kejadian, anggota Brimob memang dilempari massa dengan batu. Polisi pun membalas dengan menembakkan gas air mata.

Polisi menyebut perusuh yang membawa batu dan kembang api yang sudah tersudut, lalu mencari perlindungan. Salah satu tempatnya yakni di ambulan yang ada di lokasi.

"Perusuh itupun membawa alat ini, batu. Ini, dia mencari perlindungan masuk ke mobil PMI. Membawa batu dan kembang api. Jadi, masuk ke sana, masuk ke mobil," jelas dia. (rhm)