Akun Ini Sebut Prabowo Kalah Pilpres Karena Ndableg

Prabowo Subianto. (Foto: Ist)

Jakarta,  Dekannews- Ketua Umum Partai Gerindra,  Prabowo Subianto, kembali gagal menjadi presiden RI karena gugatan sengketa Pilpres 2019 yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) ditolak. 

Ini kegagalan yang kedua setelah gugatan sengketa Pilpres 2014 yang diajukan ke lembaga yang sama juga ditolak. 

Akun @IreneViena menyebut,  kegagalan Prabowo yang bertubi-tubi tersebut merupakan akibat dari sikapnya yang ndableg alias kepala batu,  karena tak mau mendengar masukan yang ia berikan. 

"Banyak kesalahan Prabowo yang seharusnya tak perlu terjadi karena sudah diingatkan dan diberi saran terbaik.  Namun Allah berkehendak lain. Mungkin Prabowo tak layak menjadi pemimpin bangsa karena tak pernah peduli pada rakyat dan pendukungnya.  Nasib F Wowor ajudannya pun tak bisa dia bela," kata @IreneViena seperti dikutip Dekannews,  Jumat (28/6/2019).

Akun ini membeberkan kelemahan Prabowo yang membuat mantan Danjen Kopassus itu dituding ndableg. 

@IreneViena mengatakan, ia pernah menyarankan agar Prabowo mundur dari Pilpres 2019, karena hanya cara itu yang dapat membuatnya memenangkan Pilpres 2019. Namun meski Prabowo sempat menyetujui usul itu,  usul kemudian dicampakkan dan dia tetap nyapres. 

Berikut penuturan @IreneViena tentang hal itu;

"Terkait Pilpres 2019, karena menyaksikan luar biasanya kecurangan yang telah dan akan terjadi, dimana Prabowo MUSTAHIL dimenangkan, saya berulangkali sarankan Prabowo mundur dari Pilpres untuk memastikan kemenangannya," kata dia. 

"Karena hanya dengan mundur,  maka Prabowo dapat dipastikan menang Pilpres 2019. UU Pemilu No. 7/2017 yang didesain dalang rezim boneka untuk menampilkan Prabowo sebagai capres yang mudah dikalahkan Jokowi,  dapat dimanfaatkan Prabowo untuk kemenangannya di Pilpres, " lanjut dia. 

"Usulan Prabowo untuk mundur dari Pilpres itu telah disetujui Pak Amien Rais, Joko Santoso dan Sandiuno. Tapi entah mengapa mendadak Prabowo ngotot tetap maju meski tahu pasti akan dikalahkan dengan curang". 

"Usul agar Prabowo mundur dari Pilpres 2019 yang sudah disampaikan sejak Desember 2018 itu sangat serius karena hasil dari penelitian kami selama hampir dua tahun mencermati dan menganalisa manuver dan dinamika politik dalam rezim boneka,  hanya dengan mundur Prabowo dijamin menang Pilpres". 

"Pada Desember 2018 konstelasi politik sudah menunjuklan sebagai berikut; akses Prabowo berkomunikasi langsung dengan para pemimpin Barat telah tertutup total akibat stigma negatif tentang Prabowo yang difitnah sebagai tokoh fasis,  otoriter,  anti demokrasi, anti China, dan penunggang kelompok Islam radikal RI". 

"OPINI dan CITRA adalah segala-galanya dalam politik. Kedua hal itu Prabowo sudah babak belur dihajar secara sistematis,  masif,  ajeg sejak 2011. Jalan satu-satunya untuk membuka akses komunikasi dengan pemimpin dunia untuk memulihkan citra dan meluruskan opini adalah dengan Prabowo mundur dari Pilpres". 

"Indonesia adalah negara berpenduduk Islam terbesar di dunia yang menganut sistem demokrasi. Tidak ada demokrasi tanpa penyelenggaraan Pemilu/Pilpres.  Tidak ada Pilpres jika calon presiden hanya tunggal. Prabowo mundur=demokrasi Indonesia tidak ada,  bencana bagi demokrasi dunia!"

"Keputusan Prabowo mundur Pilpres pasti menimbulkan pertanyaan bagi pempin-pemimpin dunia (Barat), terutama AS-Eropa. Mereka yang sebelumnya menghindar berkomunikasi dengan Prabowo, pasti berbalik segera hubungi Prabowo langsung untuk sebab musababnya. Kesempatan emas Prabowo untuk sampaikan fakta-fakta". 

"Dalam kesempatan itulah Prabowo sampaikan fakta sebenarnya tentang demokrasi dan Pemilu di Indonesia. Fakta pencurangan Pilpres 2009 dan 2014, fakta pencurangan Pilpres 2019 yang sudah terjadi dan akan terjadi. Jika AS-Eropa concern dengan Pemilu RI = rencana Pemilu curang akan gagal". 

"Ketika gagasan Prabowo mundur dari Pilpres mengemuka, kubu 01 panik luar biasa. Media-media. mainstream dikerahkan untuk membangun OPINI yang dianggap dapat mempengaruhi Prabowo untuk membatalkan rencana itu. Sayang Prabowo ndableg". 

"Rakyat Indonesia pantas marah dan kecewa pada Prabowo, karena Pilpres 2019 ini Prabowo tidak semata-mata memperjuangkan keinginan pribadinya,  melainkan juga mengemban amanat perjuangan rakyat Indonesia yang tidak sudi negara hancur di bawah rezim boneka. Prabowo sadar gak sih? "

"Mengulang jawaban saya ke Prabowo pada Februari 2018; "Hanya kebodohan yang dapat menggagalkan bapak jadi presiden.... "

Seperti diketahui,  Prabowo dan Cawapresnya,  Sandiaga Uno, merasa dicurangi secara terstruktur,  sistematis dan masif (TSM) dan mengajukan gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU)  Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) dimana KPU sebagai termohon dan pasangan Jokowi-Maruf Amin sebagai Pihak Terkait. 

Dalam putusan yang dibacakan Kamis (27/6/2019) malam, MK menolak gugatan tersebut dengan alasan tuduhan yang disampaikan tidak memiliki dasar hukum yang kuat.  (rhm)