Akan Laporkan Ebenezer Soal Ambulan DKI, Aliansi Aktivis Jakarta Lebih Dulu Minta Pedapat Dewan Pers

Enam aktivis mendatangi Dewan Pers untuk meminta pendapat sebelum melaporkan Immanuel Ebenezer ke Bareskrim Polri. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Enam dari tujuh aktivis yang tergabung dalam Aliansi Aktivis Jakarta, Selasa (1/10/2019), mendatangi Dewan Pers untuk meminta pendapat tentang pernyataan Ketua Relawan Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, di Program Dua Sisi TVOne yang tayang pada 26 September 2019 malam.

Pasalnya, dalam acara itu Ebenezer menuding bahwa Gubernur Anies Baswedan terlibat dalam kasus ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang membawa batu dan bensin untuk disuplai kepada demonstran di gedung DPR RI. Padahal, kasus itu sudah terbukti hoaks.

Keenam aktivis yang mendatangi Dewan Pers adalah Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto, Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) M Rico Sinaga, Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS) Syaiful Jihad, Ketua Jakarta Procurement Monitoring (JPM) Ivan Parapat, Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia Agung Nugroho, dan mantan pendiri Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Syafti Hidayat.

Aktivis yang berhalangan untuk ikut ke Dewan Pers adalah Ketua Budgeting Meteopolitan Watch (BMW) Amir Hamzah.

"Kami ke Dewan Pers untuk meminta pendapat apakah pernyataan Ebenezer masuk kategori hoaks ataukah tidak, karena kami berencana melaporkannya ke Bareskrim Polri," kata Sugiyanto.

Ketua Katar ini menambahkan, konsultasi ini perlu dilakukan karena Ebenezer menyampaikan tudingan itu dalam ranah media dan media tersebut terdaftar di Dewan pers, sehingga sesuai ketentuan yang berlaku, sebelum laporan ke Bareskrim dilakukan, maka terlebih dulu harus ada kajian dari Dewan Pers.

"Kami berharap dalam waktu dekat kajian dari Dewan Pers sudah kami terima, sehingga kami dapat segera melaporkan Ebenezer ke Bareskrim," tegasnya.

Rico menambahkan, pernyataan Ebenezer di TVOne itu memang meresahkan dan tak hanya berpotensi merusak nama baik Gubernur Anies Baswedan, tapi juga nama baik Pemprov DKI.

"Karena itu nanti dari sini (Dewan Pers), kami ke Bareskrim Mabes Polri," tegas ketua Amarta itu.

Seperti diketahui, kasus lima ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang membawa batu dan bensin dicuitkan oleh akun Twitter resmi Trafic Management Centre Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, pada 26 September 2019 dini hari. 

 

Inilah cuitan itu: "02:14 Polri amankan 5 kendaraan ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto".

 

Cuitan ini dilengkapi sematan sebuah video yang memperlihatkan dua dari lima ambulan yang diamankan, yang di antaranya bertuliskan Puskesmas Kecamatan Pademangan dan PMI Kota Jakarta Timur. 

 

Dalam adegan yang terekam pada video itu terlihat sejumlah aparat kepolisian menggeledah kedua ambulan itu. Saat menggeledah ambulan yang pertama, antara lain terdengar narasi sebagai berikut. 

 

"Ini ambulan pembawa batu, menyuplai batu buat demonstran!" 

 

Saat menggeledah ambulan kedua, begitu pintu belakang ambulan dibuka, terlihat sejumlah tenaga medis di dalamnya. 

 

Para tenaga medis itu nampak kaget dan di antaranya ada yang langsung mengangkat tangan. 

 

"Nah, ini dia muka-mukanya nih...," terdengar lagi suara dari video itu. 

 

Tak ada batu dan bensin yang diperlihatkan dalam video berdurasi 0:30 menit itu, namun cuitan @TMCPoldaMetro tersebut diviralkan para pendukung pemerintah dengan menggunakan akun Twitter mereka. 

 

"Hasil pantauan malam ini.. Ambulan pembawa batu ketangkep pake logo @DKIJakarta," kata @dennysiregar7 dengan menyematkan pula video yang disematkan @TMCPoldaMetro. 

 

"Ini kenapa ambulan Pemprov DKI digunakan untuk menyuplai batu para perusuh? Apa @PemprovJakarta terlibat? Apa @aniesbaswedan mo jadi Nero?" kata @OneMurthada sambil menyematkan video yang sama. 

 

"Apa-apaan ini, kenapa ambulans milik Pemprov DKI ada bawa batu buat pendemo? Woy,  siapa ini yang tanggung jawab. @DivHumas_Polri ayolah diusut sampai tuntas!  Batunya buat lemparin polisi," kata @P3nj3l4j4h. Juga sambil menyematkan video yang sama. 

 

"Lhoo...?  Ambulance @DKI Jakarta digunakan menyuplai batu untuk demo? Gub @aniesbaswedan perintah andakah ini?" kata @FerdinandHaean2.

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, cuitan itu merupakan sebuah kesalahpahaman, karena ambulan yang diamankan tidak membawa batu.  

 

"Jadi, apa namanya, anggapan anggota Brimob diduga mobil itu digunakan oleh perusuh, tapi bukan. Tapi perusuh yang bawa batu ke mobil berlindung. Clear ya. Jadi enggak ada permasalahan apa-apa,"  katanya di Polda Metro Jaya pada 26 September 2019 sore.

 

Argo menjelaskan, saat kejadian, anggota Brimob memang dilempari massa dengan batu. Polisi pun membalas dengan menembakkan gas air mata.

 

Polisi menyebut perusuh yang membawa batu dan kembang api yang sudah tersudut, lalu mencari perlindungan. Salah satu tempatnya yakni di ambulan yang ada di lokasi.

 

"Perusuh itupun membawa alat ini, batu. Ini, dia mencari perlindungan masuk ke mobil PMI. Membawa batu dan kembang api. Jadi, masuk ke sana, masuk ke mobil," jelas dia.


Pada 26 September 2019 malam, 8Program Dua Sisi TVOne membahas kasus itu dengan menampilkan Ebenezer sebagai salah satu narasumber.

Dari apa yang disampaikannya, Ebenezer antara lain menyatakan begini; "Dalam demo tersebut ada ambulans-ambulans yang berlabel Pemprov dan Anies terlibat." Statemen inilah yang dipersoalkan Aliansi Aktivis Jakarta.

Astrid Juniar, staf Bagian Pengaduan Dewan Pers yang menerima kedatangan keenam aktivis dari Aliansi Aktivis Jakarta, mengatakan, pihaknya akan mengkaji bahan-bahan yang diberikan para aktivis itu, yang akan dijadikan materi untuk melaporkan Ebenezer ke Bareskrim Polri.

"Dalam waktu dekat akan kami kabarkan," kata dia.

Dia mengakui kalau sebelum melaporkan Ebenezer, memang sebaiknya dikonsultasikan dahulu apakah statemen itu masuk kategori hoaks atau bukan, karena Ebenezer mengatakan hal itu dalam tayangan sebuah media, dalam hal ini TVOne. (rhm)