Ahli IT: Untuk Jaga Kerukunan, Masyarakat Harus Dapat Memilah Berita dengan Baik

Ahli IT dan pakar sosial kemasyarakatan, Ratnu Sumiharja (kiri). (Foto: eko/Dekan)

Jakarta, Dekannews- Kerukunan masyarakat merupakan pondasi utama dalam proses persatuan dan kesatuan bangsa untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di setiap sisi kehidupan masyarakat. Baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan beragama. 

Untuk itu, Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Suban Kesbangpol) Jakarta Utara selama tiga hari, terhitung sejak Rabu (4/9/2019) hingga Jumat (6/9/2019), mengadakan kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama di Wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara di Hotel Garberra, Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat. 

“Kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan sikap solidaritas dan kerukunan antarumat beragama di Jakarta Utara, agar dalam kehidupan sehari-hari dapat berjalan bersama guna meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, dan menjadikan Jakarta Utara aman serta nyaman di setiap kehidupan bermasyarakat dan beragama,” tutur Linda, Kasubdit Bidang Ketahanan Ekonomi, Seni, Budaya, Agama dan Kemasyarakatan Suban Kesbangpol Jakut saat membuka kegiatan. 

Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari sejumlah elemen masyarakat seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan OKP keagamaan. 

Ahli IT dan pakar sosial kemasyarakatan, Ratnu Sumiharja yang menjadi salah satu narasumber, mengatakan, banyak orang yang menyalahgunakan media sosial guna maksud tertentu; ada yang bermaksud menyampaikan informasi yang baik, namun ada juga yang menyampaikan dan sengaja menyebarkan informasi yang tidak baik atau yang biasa disebut hoaks. 

“Berita Hoaks sulit dibendung. Hal ini akan sangat berbahaya. Apalagi kalau menyangkut Sara. Ini akan mudah menyulut permasalahan, dan bisa mememecah belah kerukunan antarumat beragama, bahkan dengan sangat mudah memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa," katanya. 

Cara untuk mengatasinya, menurut dia,  adalah masyarakat harus dapat memilah berita dengan baik. 

"Sering-seringlah kita membaca berita di WA, dan FB, serta media sosial lainnya, karena hanya kita sendiri yang dapat memberikan jawaban berita itu benar atau tidak, dan pastikan kita bisa memagari diri agar tidak mau terpancing dengan berita yang menyesatkan diri dan akan membahayakan diri kita," tambahnya. 

Ia mengingatkan, jika dianggap menyebarkan hoaks, si penyebar dapat dijerat dengan UU ITE dengan hukuman kurungan cukup lama, yaitu 5 Tahun penjara.  (eko)