Ada Apa di Balik Rusuh Papua dan Pindah Ibukota?

Anton Permana. (Foto: Facebook)

DI SINILAH cerdiknya China. Trauma akan lengsernya Ahok dan kegagalan proyek reklamasi Jakarta dan Meikarta menjadikan China mempercepat agenda pemindahan ibukota Indonesia ke Kalimantan.

Oleh: Anton Permana
Direktur Executive Forum Musyawarah Majelis Bangsa Indonesia dan Alumnus Lemhannas PPRA LVIII

Empat tahun yang lalu di awal pemerintahan Jokowi, ketika penulis melakukan perjalanan dan mendampingi Wagub Sumbar ketika itu (Alm) Muslim. Kasim, penulis diperkenalkan dengan seorang pria (penulis lupa namanya) warga keturunan asal Kalimantan yang ketika itu mengaku sebagai aktor utama yang menggerakkan dan merancang 'cyber force' tim Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta dan berlanjut ke Pilpres. Atau umum dikenal dengan sebutan Jasmev.

Singkat cerita, perkenalan kami ketika itu di Plaza Indonesia lantai 4, pria tersebut membuka iPad-nya yang memperlihatkan sebuah gambar animasi rancangan kota modern dengan design 4 dimensi yang luar biasa. Sebuah design kota (meskipun belum sempurna ketika itu) telah memperlihatkan tatanan sebuah kota metropolis yang modern, hijau, artistik, futuristik, lengkap dengan segala fasilitas digital, community centre, kondo apartemen, gedung pencakar langit, MRT, monorel, pelabuhan udara (dengan konsep aerotropolis), pelabuhan besar, jembatan-jembatan indah, serta sebuah istana megah lengkap dengan bangunan perkantoran di sekitarnya.

Karena penasaran dan takjub, penulis bertanya rancangan kota dimanakah itu? Kemudian si pria sambil setengah ketawa menjawab; "Ini adalah konsep Jakarta kedua 10 tahun ke depan setelah Ahok jadi presiden,  hahahaha...!"

Meskipun kedengarannya setengah becanda, tapi obrolan itu cukup berkesan bagi penulis hingga hari ini, ternyata gambar animasi sebuah kota besar yang beredar banyak di media sosial hari ini tentang Kalimantan boleh dikatakan mirip dengan gambar empat tahun lalu yang penulis lihat. Walaupun ketika itu si pria sudah mengatakan rencana Jakarta kedua itu akan dibangun di Kalimantan.

Ketika si pria berkata demikian, penulis jujur ketika itu kurang yakin dan percaya. Bahkan anggap angin lalu saja. Baru setelah Jokowi mengumumkan secara terbuka bahwa akan memindahkan ibukota ke Kalimantan, barulah penulis 'ngeh' dengan apa yang dikatakan si pria keturunan itu.

Cuma yang akhirnya menjadi catatan penting bagi penulis adalah berarti wacana pindah ibukota ini sudah dirancang, dipersiapkan sejak lama dengan demikian matang. Bukan kaleng-kaleng. Buktinya, Jokowi begitu percaya diri, optomis akan memindahkan ibukota di tengah kerusakan ekonomi, tata kelola pemerintahan saat ini. Desakan utang, defisit anggaran, BUMN bangkrut dan mau dicaplok China seolah tidak ada masalah dengan ini.

Yang menarik lagi, pengumuman pindah ibukota pada tanggal 16 Agustus yang lalu, langsung disambut dengan insiden rusuh Papua yang berdarah-darah dan penuh anarkisme, jatuh korban jiwa dari aparat bahkan sampai ke depan Istana Negara.

Pada titik inilah sebenarnya pokok bahasan judul di atas bisa kita cari benang merah untuk menganalisis apa motif dan orientasi dari dua kejadian besar di hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-74 tahun ini.

Berikut hasil analisis penulis yang dikumpulkan dari beberapa sumber dan referensi data terpercaya.

1. Pindah ibukota dari Jakarta ke Kalimantan adalah skenario besar dari China. Kenapa? Karena Kalimantan mempunyai peran penting dari posisi strategis bagi program OBOR (One Belt One Road) sebagai pintu masuk China untuk menancapkan hegemoninya lebih dalam di kawasan Asia. Dan Kalimantan secara geografis juga sangat dekat dari China, dan juga secara demografis (data kependudukan) komposisi warga keturunan China di Kalimantan cukup dominan dan kuat. Jadi, Kalimantan memang sangat seksi di mata China dan wajib dikuasai.

2. Sesama kita ketahui, ibukota adalah 'centre of gravity' sebuah negara. Dalam. Peperangan militer, ibukota adalah simbol penaklukkan dari sebuah negara. Apabila ibukota berhasil direbut atau ditaklukkan, berarti itu sama dengan keberhasilan menaklukkan dan menguasai negara.

Kondisi Jakarta yang begitu padat dan mengakar secara geokultural dan geografis (berada pada lingkar dalam negara), tentu akan sulit menembus dan menaklukkan Jakarta yang begitu besar dan sudah berurat berakar dikuasai banyak negara (tidak hanya Indonesia) lainnya berdasarkan kepentingan masing-masing.

Di sinilah cerdiknya China. Trauma akan lengsernya Ahok dan kegagalan proyek reklamasi Jakarta dan Meikarta menjadikan China mempercepat agenda pemindahan ibukota Indonesia ke Kalimantan. Tujuannya apa? Kalau ibukota dipindah, maka Jakarta akan lumpuh. Kekhususannya pun akan dipreteli dan dicabut. Semua kendali negara dipindahkan ke tempat ibukota yang baru, yakni Kalimantan.

Nah, apabila ibukota baru sudah berdiri dan berjalan, maka secara otomatis 'remote control' negara Indonesia yang selama ini berada di Jakarta akan berpindah tangan ke Kalimantan. Dan ini sama artinya semua kendali negara kita akan berpindah tangan ke Kalimantan. Secara paralel, seiring proses pembangunan ibukota ini berjalan, China akan dengan mudah memobilisasi rakyatnya untuk masuk dan migrasi ke Kalimantan agar kemudian menjadi mayoritas dan menguasai mutlak Kalimantan secara penuh, mulai dari fisik ekonomi, politik dan komposisi jumlah penduduk seperti sejarah berdirinya Singapura dengan menyingkirkan pribumi Melayu. Ini bukan hoaks atau halusinasi karena fakta dan data ke arah itu sudah terbuka terang benderang.

3. Skenario peta jalan perpindahan ibukota ini langsung terbuka oleh si Adikuasa Amerika bersama aliansinya. Kalau Kalimantan menjadi pintu masuk program OBOR China, maka Papua adalah pintu masuk program TPP (Trans Pacific Partnership) Amerika dan aliansinya untuk membendung hegemoni China di Asia-Pasific. Papua sejak masa perang dunia pertama dan kedua pun sudah memiliki arti penting bagi Amerika. Bahkan juga secara kebijakan pertahanan, Amerika sudah menjalankan konsep US INDOPACOM, yaitu membentuk border aliansi segitiga India-Australia-Jepang untuk menghadapi China

4. Jadi, perpindahan ibukota ke Kalimantan ini sangat berdampak besar bagi masa depan Indonesia di antara jepitan dua kekuatan besar (raksasa dunia). Perpindahan ibukota ke Kalimantan adalah simbol kemenangan China atas Amerika dalam merebut dan memguasai Indonesia. Kalau ibukota pindah ke Kalimantan yang notabenenya semua fasilitas, konsep, design, biaya dari China, maka Amerika dan sekutunya akan gigit jari. Indonesia lepas dari kontrol dan hegemoni Amerika. Wajah Indonesia akan berganti menjadi Indochina. Indonesia yang selama ini 'American Boy' hanya tinggal sejarah dan cerita lama.

So pasti dampak perpindahan ibukota ke Kalimantan, semua yang terkait dengan penguasaan atas tanah,  bumi, air, birokrasi, sumberdaya alam, aparatur, semua bergeser serta juga pindah berada di bawah kendali ibukota baru 'made in China'.

5. Melihat skenario ini, Amerika langsung memainkan skenario tandingan rusuh Papua untuk memecah konsentrasi, menjegal rencana perpindahan ibukota ke Kalimantan, atau juga akan memutilasi Papua dari Indonesia dengan ancaman Papua merdeka, dan menjadi milik Amerika sebagai basis dan hegemoninya di kawasan Asia-Pasifik, karena pasti Amerika takkan rela 'ladang' suburnya selama inji diambil alih China. Karena kekayaan alam Papua yang melimpah serta letak geografis Papua yang tepat berada di tengah kawasan yang menghuhungkan Amerika dengan Asia-Pasifik-Australia.

6. Pihak istana tentu paham dan hati-hati dalam menghadapi manuver propaganda rusuh Papua yang begitu massive dan terencana ini. Makanya jangan heran aparat, khususnya Polri serta Istana seperti gagap dalam menghadapi situasi ini.  Bayangkan, hanya dalam hitungan menit dan jam, rusuh anarkisme Papua begitu cepat meluas, massive, bahkan sampai ke depan istana dan Mabesad TNI,   mengibarkan bendera Bintang Kejora dan menuntut merdeka secara terbuka. Padahal kalau kita lihat perbandingan antara kekuatan TNI-Polri dengan perusuh Papua bukanlah apa-apa.

Namun yang terjadi sebaliknya, korban nyawa dan pembakaran pun sudah merebak terjadi di Papua; Sorong, Manokwari, Fakfak, Wamena, Jayapura, semua membara, bergerak serentak menuntut merdeka. Anehnya lagi, sudah jelas rusuh ini begitu radikal, anarkis dan tuntutannya adalah merdeka, Menkopolhukam Wiranto yang dulu juga menjabat Panglima ABRI ketika rusuh Mei 1998, meminta aparat persuasif, tanpa senjata. Apa yang terjadi kemudian, aparat tak bersenjata menghadapi perusuh pakai senjata, ya habis dibantai dengan parang, panah dan tombak.

Jadi aneh juga kalau penanganan rusuh Papua rezim saat ini bagaikan putri malu alias macan jadi kucing. Sangat berbeda ketika menghadapi 212 dan rusuh 21-22 Mei pada Pilpres yang lalu. Negara kelihatan begitu ganas, perkasa, malah semena-mena terhadap umat Islam yang datang membawa sajadah dan kopiah.

Ketimpangan dan perbedaan ini terjadi, karena negara pasti sudah tahu siapa aktor dan pemain di belakang rusuh Papua.

Artinya, rusuh Papua tak lebih dari bentuk perlawanan Amerika melalui proxy dan aliansinya di Papua terhadap manuver China yang mau memindahkan ibukota ke Kalimantan.

Cuma yang kuta sayangkan adalah sikap pemerintah hari ini yang tidak jelas alias pengecut.

Seharusnya Indonesia pandai memainkan prinsip politik luar negeri negara kita, yaitu 'Bebas dan Aktif', sehingga tidak perlu terkungkung di bawah ketiak satu negara secara total.

Seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menjadi peluang bargaining yang paling menguntungkan dari tarik menarik dua raksasa dunia ini. Bukan malah terjepit tak berdaya seperti sekarang ini.

Untuk itu penulis mempunyai beberapa pemikiran terhadap apa yang harus dilakukan Indonesia dalam menyikapi dua kejadian besar ini.

1. Ketika sudah bicara kedaulatan, apapun itu masalahnya, pemerintah haris berani dan tegas bersikap dan menyatakan bahwa aksi dan rusuh Papua itu adalah tindakan makar dan separatisme. Dimana sebagai negara yang berdaulat, Indonesia haris memperlihatkan wibawanya sebagai bangsa yang besar dan terhormat. Caranya; stop komando operasi dari tangan Polri, dan serahkan penanganan rusuh Papua kepada TNI, karena separatisme masuk dalam dimensi pertahanan, maka ini sudah menjadi Tupoksi TNI. Jangan paksakan lagi Polri dengan topeng bahasa klise KKSB (Kelompok Kriminal Bersenjata) untuk mengatasi hal ini. Polri itu ranahnya penegakan hukum, mengejar bandit (perampok),  bukan melawan separatisme bersenjata yang ingin merdeka dan buat negara.

2. Kalau sudah bicara kedaulatan, abaikan HAM yang menjadi standar ganda negara adikuasa. NKRI harga mati mesti diimplementasikan. Jangan cuma slogan untuk gebuk FPI.

Penulis heran, seharusnya di saat Indonesia sekarang ini menjadi anggota tidak tetap PBB, Indonesia semestinya memiliki posisi tawar yang kuat untuk menangkis isu HAM dalam penindakan rusuh Papua. Mainkan peran diplomasi luar negeri untuk meyakinkan bahwa Indonesia dalam rangka menegakkan kedaulatan negaranya dari ancaman pemberontakan. Dan negara lain tidak bisa ikut campur, apalagi mendikte urusan dalam negeri Indonesia.

3. Copot Panglima TNI, Kapolri, kaBIN dan Menkopolhukam serta aparat terkait lainnya yang gagal mengatasi rusuh Papua sampai meluas ke depan Istana. Insiden memalukan ini bisa terjadi karena inteligent, TNI-Polri tidak berfungsi sama sekali. Atau ada yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan tertentu?

Perlu penyegaran aparatur dari pucuk pimpinan TNI-Polri agar clear dari segala bentuk 'titipan' dan infiltrasi kepentingan luar.

4. Indonesia harus kembali kepada jati dirinya sebagai sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Yaitu prinsip politik bebas aktif dan tegas terhadap negara manapun kalau itu terkait kedaulatan bangsa dan negara.

Indonesia adalah negara yang besar dan lahir dari tumpahan darah pejuang serta syuhada. Jadi Indonesia tak perlu lagi bertindak seperti pelayan atau calo dari kepentingan negara lain.

5. Menunda rencana perpindahan Ibukota dan fokus penataan kembali kondisi sosial politik, ekonomi negara yang sudah hancur. Tidak ada sebaik memperkuat diri sendiri, berdikari, daripada menggantungkan nasib bangsa ini kepada negara lain. Tak akan ada itu negara lain yang akan mensejeahterakan kita. Omong kosong itu semua. Semua pasti ada upeti dan imbalannya. Fakta sejarah Nusantara ini pernah berjaya karena berdikari, seperti kejayaan masa Majapahit, Sriwijaya, dan fase kesultanan kerajaan Islam.

Kenapa ini penting? Karena secara prinsip hubungan Internasional, kondisi perebutan dua raksasa saat ini terhadap Indonesia akan bisa jadi peluang dan menaikkan posisi tawar Indonesia, kalau bangsa ini kuat dan mandiri. Tapi kalau kepemimpinan negara ini lemah dan banci, maka Indonesia akan jadi bancakan atau bulan-bulanan bangsa asing.

6. Para kelompok idealis, nasionalis, kalangan ulama dan aktifis Islam perlu mengantisipasi kondisi terburuk yang akan terjadi dengan menyiapkan segera skenario ke tiga di luar dari skenario dua raksasa dunia tersebut.

Inilah saatnya kita melihat siapa yang Indonesia sejati itu sebenarnya. Siapa yang memang setia, loyal, terhadap Indonesia secara faktanya. Dan siapa sejatinya kelompok yang munafik dan para pengkhianat negara sebenarnya.

Mana yang selama ini teriak NKRI harga mati, mengaku Pancasilais, anti radikalisme dan merah putih? Semua bungkam membisu.

Artinya, rakyat mesti sadar bahwa jargon-jargon di atas hanyalah topeng dalam menutupi kebusukan mereka selama ini. Jargon-jargon manis di atas hanyalah senjata untuk melampiaskan kedengkian, kebencian mereka kepada Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Islam yang selama ini difitnah radikal, jahat, anti NKRI, ehh malah hari ini Papua yang terang-terangan memborong tuduhan itu semuanya.

Pemerintah tidak bisa menganggap remeh atas insiden rusuh Papua ini. Khususnya bagi para aktifis 212. Papua yang gerakannya hanya segelintir itu saja, bisa begitu perkasa membantai aparat dengan panah dan parang, bahkan di depan hidung Istana, markas besar TNI AD.

Bayangkan juga kalau pada masa aksi 212 atau pada masa demonstrasi 21-23 Mei yang lalu ummat Islam juga melakukan hal yang sama? Pasti sudah bubar negara ini.

Artinya adalah semua pihak harus tobat dan sadar,  khususnya aparat negara. Bukan berarti ummat Islam tidak bisa bertindak seperti orang Papua, tapi ummat Islam karena sangat cinta terhadap negeri ini dan tidak mau terjebak dalam adu domba antar sesama. Tapi kebaikan ini dibalas dengan perlakuan semena-mena dari rezim dan aparat.

Nah, dengan kejadian rusuh Papua saat ini, hati-hati, telah membuka mata hati dan pikiran para aktifis dan mujahid Islam atau jadi inspirasi besar. Bahwa yang tertanam dalam benak rakyat hari ini adalah, “Kalau aksi itu damai dan baik-baik saja, maka aparat akan semena-mena dengan tuduhan makar dan radikal. Tetapi kalau aksi itu radikal, anarkis, maka aparat yang akan minta maaf. Parahnya lagi, diskriminasi antara perlakuan kepada perusuh Papua dengan ummat Islam sangat jauh berbeda. Dan diskriminasi perlakuan ini sangat menyakitkan hati ummat Islam Indinesia. Mereka baru sadar bahwa selama ini telah dibodoh-bodohi dengan penjara stigma bahasa anti toleransi, anti bhineka. Padahal semua itu hanyalah cara licik rezim hari ini membungkam dan melemahkan Islam secara sistematis “.

Untuk itu kembali kepada kesimpulan kita. Inilah saatnya bangsa Indonesia menyiapkan skenario ketiga untuk membebaskan Indonesia dari jepitan dua raksasa dunia ini.

Cukup rakyat yang jadi korban, negara diobok-obok, kita diadu domba. Indonesia harus bangkit dari kondisi keterjajahan ini. Mari rakyat Indonesia bersatu padu, untuk mendesak pemerintah agar berani bertindak tegas, menumpas saparatisme Papua dengan tuntas. Karena kalau tidak, rusuh Papua bisa menjadi pemicu utama dari disintegrasi bangsa.

Selanjutnya masyarakat juga mendesak agar presiden serta legislatif untuk membatalkan wacana pindah Ibukota ke Kalimantan, karena ide ini hanyalah ibarat Indonesia memberikan lehernya kepada China. Stop, jangan lagi jadi pengkhianat bangsa dengan menjadikan diri pelayan, penjilat, kepentingan China.

Mari kita kembalikan Indonesia sebagaimana amanah konstitusi kita, yaitu menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, di bawah panji Pancasila. NKRI Harga Mati! InsyaAllah.

Jakarta, 30 Agustus 2019

(sumber: Facebook penulis)