7 dari 20 Kapal Tradisional Yang Telah Punya Akta MoU dengan Trans 1000 Adalah Kapal Rusak

Murthado (tengah). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Manajer Operasional PT Samudra Sumber Artha (SSA), Murthado, mengatakan, tujuh dari 20 kapal tradisional yang pemiliknya telah memiliki akta MoU (memorandum of understanding) dengan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo adalah kapal-kapal yang sudah tidak beroperasi mengangkut penumpang di perairan Kepulauan Seribu, karena telah rusak.

"Tujuh dari 20 kapal yang pemiliknya dinyatakan PT Trans 1000 telah memiliki akta MoU dengannya, sudah tidak beroperasi melayani penumpang," kata Murthado kepada dekannews.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (27/9/2019).

Ia menegaskan, meski ke-20 pemilik kapal itu, juga pemilik sembilan kapal lain yang sudah menandatangani MoU dengan Trans 1000, namun belum memiliki aktanya, berdasarkan rapat pada Minggu (22/9/2019) telah menyatakan akan tetap bermitra dengan SSA.

"Mereka menandatangani MoU dengan Trans 1000 hanya untuk mengikuti program-programnya, karena mereka terbuai oleh janji-janji yang ditawarkan perusahaan itu, namun sebenarnya tidak paham betul (program-program itu)," katanya.

Selain hal tersebut, Murthado juga melihat di antara pemilik kapal tradisional agaknya ada yang tidak menyadari kalau selama ini mereka lah yang berjuang untuk merintis rute pengangkutan penumpang dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, sehingga mereka mudah terbuai janji Trans 1000.

Padahal, tegasnya, Pelabuhan Kaliadem menjadi hidup dan seramai sekarang adalah karena buah perjuangan mereka selama bertahun-tahun, sehingga berkat mereka pula jumlah wisatawan ke Kepulauan Seribu meningkat. 

"Dulu sebelum mereka dan SSA eksis, pelabuhan ini sepi dan tidak menarik bagi perusahaan mana pun," katanya.

Meski demikian Murthado mengakui, bagi para pemilik kapal tradisional yang kapalnya sudah tidak beroperasi, janji-janji dan iming-iming yang diberikan Trans 1000 sangat menggiurkan, karena setidaknya mereka akan kembali mendapatkan penghasilan dari kapal-kapalnya yang telah rusak dan tidak beroperasi itu.

"Tapi nanti  kami akan mengundang mereka kembali untuk mempertanyakan komitmennya terhadap SSA, sekaligus menanyakan apa isi MoU yang telah mereka tandatangani dengan Trans 1000," katanya.

Seperti diketahui, bisnis transportasi laut di perairan Kepulauan Seribu dengan rute Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu saat ini sedang dalam kemelut seiring dengan akan masuknya PT Trans 1000 ke bisnis itu.

Trans 1000 memiliki program peremajaan kapal dengan mengubah semua kapal tradisional menjadi kapal kargo, dan fungsi pelayanan penumpang digantikan dengan kapal-kapal cepat dan modern miliknya.

Trans 1000 menjanjikan, jika pemilik kapal tradisional bergabung dengannya, per bulan para pemilik kapal tradisional itu akan mendapat pemasukan Rp35 juta dari kapal-kapal mereka yang telah dialihfungsikan menjadi kapal kargo, dan Rp5.000/penumpang dari kapal-kapal cepat milik Trans 1000 yang dioperasikan untuk mengangkut penumpang.

Dirut PT Trans 1000, Nana Suryana, mengatakan, dari 42 pemilik kapal tradisional, sejauh ini yang telah menyatakan bergabung dan bersedia mengikuti program perusahaannya sebanyak 33 pemilik kapal.

Dari jumlah itu, 29 pemilik kapal telah menendatangani MoU, namun yang akta MoU-nya sudah terbit baru 20 pemilik kapal. Sisanya masih dalam proses legalisasi.

Inilah nama ke-20 pemilik kapal yang sudah memiliki akta MoU dengan Trans 1000:
1. Ikromul Azhmi - KM Islani
2. H. Suriyat Saruri - KM Anterja
3. Sanwari - KM Napoleon 12
4. Saluri - KM Harapan Ekspres
5. Safrudin - KM Miles 2
6. Sahrani - KM Srikandi Z2
7. Tajeni - KM Rindu Alam
8. Moch. Sukri - KM Dolphin Ekspres
9. Moh. Yusuf - KM Bahtera 2
10. Abdul Jalal - KM Karisma Anugera
11. Tintus Apriyanto Zulfikar - KM Miles
12. Rayudi - KM Batavia
13. H. Nurjali - KM Satria Tirta 2
14. H. Nurjali - KM K'satria 1
15. Mustawa - KM Zahro
16. Zaenudin - KM Diamond 21
17. Anwar - KM Hasbi Jaya
18. Herman Pelani - KM Raksasa
19. Hidayat - KM Colombus
20. Suryana - KM Kurnia 1

Menurut Murtjado, delapan dari ke 20 kapal itu yang sudah tidak beroperasi adalah:
1. KM Anterja
2. KM Napoleon 12
3. KM Srikandi Z2
4. KM Karisma Anugera
5. KM Satria Tirta 2
6. KM Raksasa
7. KM Kurnia 1
(rhm)