27 Kapal Tradisional Dapat Bantuan Life Jacket dan Ring Boy dari Jasa Raharja

Penyerahan life jacket oleh Jasa Raharja kepada pemilik dan nahkoda 27 kapal tradisional di Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Sebanyak 27 kapal tradisional yang sehari-hari melayani aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Kamis (12/9/2019), mendapatkan bantuan 275 unit life jacket dan 100 ring boy dari PT Jasa Raharja. 

Penyerahan bantuan ini dilakukan di sela-sela acara Gerakan Bersih-bersih Laut dan Pantai di Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara. 

Penyerahan bantuan dilakukan oleh Sekretaris Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Arif Toha. 

"Jasa Raharja dipercaya untuk menjalankan UU Nomor 33 Tahun 1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang, termasuk penumpang angkatan laut. Nah, Jasa Raharja punya Program Pencegahan, dan bantuan ini merupakan bagian dari pencegahan tersebut," ujar Kepala Bagian Pelayanan PT Jasa Raharja cabang DKI Jakarta, Danny Ronald Lahia, usai penyerahan bantuan. 

Ia mengakui, tingkat kecelakaan angkutan penumpang laut di Pelabuhan Kaliadem tergolong rendah karena aktivitas pengangkutan penumpang di pelabuhan ini tidak setinggi dan seramai di wilayah timur Indonesia. 

"Tapi pencegahan itu perlu untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan," katanya. 

Menurut data, saat ini terdapat 38 kapal tradisional di Pelabuhan Kaliadem, namun yang aktif melayani penumpang hanya 27 unit. Para pemilik kapal-kapal ini bernaung di bawah PT Samudra Sumber Artha (SSA) sebagai mitra sekaligus 'bapak angkatnya'. 

Manajer Operasional PT SSA, Murthado, mengatakan, ke-275 life jacket dan 100 ring boy hanya akan dibagikan kepada 27 kapal yang masih aktif beroperasi, sehingga per kapal rata-rata akan mendapatkan 100 unit life jacket.  

"Adanya bantuan ini bukan berarti life jacket yang dimiliki ke-27 kapal itu rusak dan tidak memenuhi standar, bukan, melainkan karena selama ini hubungan kami dengan Jasa Raharja memang sangat baik," katanya. 

Murthado menjelaskan, secara rutin pemilik kapal, nahkoda dan anak buah kapal (ABK) selalu mengecek kelayakan fasilitas yang mereka miliki demi kenyamanan dan keamanan penumpang. 

"Untuk life jacket, secara rutin mereka melakukan simulasi untuk memastikan bahwa tak ada life jacket yang tak layak pakai. Kalau ada yang sudah tak layak, dibuang dan diganti yang baru. Nah, yang dari bantuan ini nanti akan menggantikan kalau saat simulasi ada lagi yang memang sudah tak layak," katanya. 

Soal kelaikan kapal, Murthado menjelaskan kalau SSA tak pernah jemu untuk mengimbau dan mengingatkan pemilik kapal, nahkoda dan awaknya agar kondisi kapal, termasuk mesinnya, dicek. 

"Setiap tahun kapal pasti docking untuk cek fisik kapal dan mesin. Pengecekan biasanya dilakukan per enam bulan," katanya. 

Saat memberangkatkan wisatawan ke pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, nahkoda dan ABK bersinergi dengan kesyahbandaran, polisi dan petugas Dinas Perhubungan. 

"Intinya, untuk keselamatan kami masimal. Juga untuk kenyamanan penumpang," pungkas Murthado. (rhm)