22 Tahun Berkiprah, Cik's Production Setia Mengusung Musik Underground

Pemotongan kue ulang tahun Cik's Production oleh Budi Siswanto didampingi Abdul Hafidz. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Cik's Production, sebuah event organizer (EO) yang mengkhususkan diri sebagai penyelenggara festival dan konser aliran musik underground,  pada Senin (11/11/2019) lalu genap berusia 22 tahun. 

Di rentang perjalanan yang sangat panjang itu,  Cik's yang didirikan oleh enam aktivis Jakarta, yakni Budi Siswanto, Abdul Hafidz, Novida Anggraini, Komarudin Dahlan, Rani Nuraini dan Panji Eka Nurpatria, bertahan sebagai perusahaan berbentuk yayasan yang non profit. 

"Cik's didirikan pada 11 November 1997 untuk menjadi wadah bagi kreativitas kami sebagai pendiri, dan juga bagi teman-teman aktivis yang lain. Kebetulan, para pendiri ini merupakan orang-orang yang menyukai aliran musik underground seperti Ska, blues, rock dan lain-lain, sehingga kemudian disepakati bahwa Cik's menjadi EO (event organizer)  yang khusus menyelenggarakan festival maupun konser untuk aliran musik jenis ini," jelas Budi di sela-sela acara syukuran 22 tahun Cik's Production di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019). 

 

CEO Cik's Production ini menyebut, sedikitnya ada dua alasan mengapa Cik's mengusung musik underground. Pertama, karena musik underground adalah jenis aliran musik yang melakukan aktivitas di luar ranah industri musik, sehingga jenis aliran musik ini perlu wadah untuk dapat eksis dan terus berkembang. 

Kedua, dengan memfasilitasi penyelenggaraan event berupa festival maupun konser, diharapkan lahir band-band yang dapat semakin mewarnai industri musik Tanah Air. 

Budi mengakui, selama 22 tahun berkiprah, Cik's telah memunculkan banyak band musik underground. Salah satunya Band Siksa Kubur yang hingga saat ini masih eksis. 

Meski demikian Budi juga mengakui kalau selama 22 tahun ini Cik's lebih mengedepankan peran sosial dibanding mengejar keuntungan, karena pemasukan dari penyelenggaraan musik underground tidak seberapa dibandingkan  pemasukan dari konser atau pagelaran jenis musik yang lain. 

"Panggung Senja yang kami selenggarakan di Monas pada September 2019, dan rencananya diselenggarakan setiap dua minggu sekali, itu saja tanpa sponsor," katanya. 

Lalu bagaimana strategi Cik's agar tetap eksis? 

Budi menjelaskan, setiap melakukan kegiatan pihaknya  menjalin kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dan jajarannya seperti pada penyelenggaraan Panggung Senja, atau menyelenggarakan festival di gelanggang remaja - gelanggang remaja agar pembiayaan dapat ditekan. 

"Buat kami, ini dapat berjalan saja kami sudah bersyukur, karena kami memang tidak profit oriented," katanya. 

Ketika ditanya apakah Cik's tidak tergugah untuk mengusung jenis musik lain yang lebih populer dan dengan penyanyi-penyanyi maupun grup band yang telah punya nama? Budi tegas menjawab tidak. 

Meski demikian aktivis ini mengakui, seiring berjalannya waktu, usulan-usulan muncul dari internal karena di antara mereka ada yang tertarik untuk berbisnis di bidang tour and travel, sehingga Cik's Production pun melebarkan sayap dengan merambah ke bisnis tersebut. 

 

Syukuran 22 tahun Cik's Producition berlangsung sederhana, namun penuh keakraban. Lebih dari 30 orang hadir dalam acara ini, termasuk lima dari enam pendirinya karena Panji tak hadir. 

Didahului makan siang, acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 22 di atasnya. Pemotongan kue dilakukan oleh Budi, dan irisan dari pemotongan kue tersebut diberikan kepada mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta Zainal Mussapa yang hadir sebagai tamu kehormatan. (rhm)