19 Pejabat China Diadili Karena Tutupi Kasus Pembunuhan Sadis

Ilustrasi kasus pembunuhan. (Foto: Int)

Beijing, Dekannews- Sebanyak 19 pejabat China diadili karena menutupi kasus pembunuhan di sebuah sekolah yang terjadi pada Januari 2003.

Media pemerintah China, Xinhua, melaporkan, korban bernama Deng Shipin, seorang pegawai sekolah di Kota Huaihua, Provinsi Hunan Tengah, yang ditugasi untuk mengawasi taman bermain di sekolahnya. 

Salah satu terdakwa kasus ini, Du Shaoping, adalah seorang kontraktor yang perusahaannya mendapatkan proyek pembangunan taman itu.  Hubungan terdakwa dengan korban dikabarkan tidak baik.

Anak perempuan korban mengaku bahwa Du sempat ingin memberi hadiah dan uang tunai kepada korban, namun ditolak dan diserahkan kepada staf akuntan sekolah.

Beijing News melaporkan, Du sempat mengeluh kepada para pegawai konstruksi bahwa korban "terlalu ketat mengawasi kualitas proyek mereka". Du bahkan disebutkan sempat mengatakan sacara blak-blakan bahwa dia ingin membunuh korban.

Mengutip berkas dakwaan, AFP mengabarkan, Du mengubur mayat Deng di taman bermain yang dibangunnya, setelah korban dibunuh. 

Sehari setelah pembunuhan itu, Huang Bingsong, paman Du yang juga kepala sekolah pemilik taman yang dibangun, dikabarkan mengarahkan sebuah buldoser di lokasi taman bermain itu. 

Keluarga korban melapor ke polisi setelah Deng tidak pulang selama beberapa hari dan dicari kemana pun tidak ditemukan. Keluarga juga menyampaikan kecurigaan karena ada informasi bahwa korban dibunuh dan mayatnya dikubur di taman sekolah, namun polisi menyepelekan laporan tersebut dan gagal mengungkap kasus "hilangnya" korban. 

Xinhua mengatakan,  ada 19 pejabat, termasuk sejumlah aparat kepolisian, anggota komite Partai Komunis lokal, pejabat pemerintah pusat, hingga staf sekolah diduga terlibat menutupi kasus pembunuhan ini karena dianggap melalaikan tugas dan melanggar aturan hukum lainnya. Dari jumlah itu, 10 di antaranya sedang menunggu disidang, termasuk enam petugas polisi, sementara sembilan lainnya telah dijatuhkan sanksi administratif, termasuk pemecatan.

Du sendiri yang menjadi otak pembunuhan dan seorang lainnya yang terlibat pembunuhan itu, telah divonis, sementara Huang masih menunggu persidangan. 

Ke-19 pejabat itu diduga menutupi kasus pembunuhan sadis ini setelah "ditemui" Huang tak lama setelah pembunuhan terjadi. (rhm)